Letter
I open again my last letter from my brother. So worn and and crumpled, The ink even already disappeared. too old for a new letter was coming to me last week, i'm confident that the couriers was late or forget for delivering as soon as possible.
It has been 3 years ago my brother was leaving me with the farmers. Orang tua kami sudah lama meninggal saat aku dan kakakku masih belum mengerti huruf dan angka, paman dan bibi petani yang merupakan teman baik mereka mengurus kami sampai kami bisa mandiri. Kakakku lebih dulu meninggalkan mereka, ia memutuskan untuk pergi dan mengejar cita-citanya menjadi seorang perancang bangunan ternama.
Saat itu adalah saat terberat dalam hidupku, ditinggal pergi oleh kakakku dalam waktu yang tidak tentu lebih berat dibandingkan saat ibu dan ayahku tiada. Dia adalah kakak tersayangku satu-satunya keluargaku yang tersisa, diluar paman dan bibi petani tentunya. Tapi kakakku berjanji akan mengirimku surat agar aku selalu tahu keadaannya.
Setiap hari surat berdatangan dari tempat yang berbeda dan Negara yang berbeda pula, Vireland, Classtasic, Regudan. Menceritakan segala cerita ketika ia dimarahi seorang pria gendut berkepala pelontos karena mencuri sebuah roti dari tokonya, atau ketika ia tak sengaja mempergoki pasangan yang sedang beradu cinta, atau ketika ia beruntung mendapat sebuah lotre liburan gratis.Kakakku pun menceritakan orang-orang yang ia temui dari kalangan manapun, pemungut sampah sampai pemungut harta ia sudah sering jumpa. Mereka yang sering berurusan dengan daging hewan dan manusia pun ia temui. Aku merasa ngeri saat membacanya, kenapa ia tidak takut dengan orang jahat ?
Surat terakhir yang ia kirimkan adalah yang kupegang saat ini, tidak bertanggal hanya negara yang tercantum. Ditulis dengan kertas yang berbeda dari surat-surat yang lainnya, dilukis dengan pena yang sepertinya tintanya sudah hampir habis. Isinya yang paling berbeda dari yang lainnya, tidak panjang hanya terdiri dari beberapa kata.
“Gehen Sie nicht, das Land ist sehr gefahrlich - Quatra” (jangan pergi, Negara sangat berbahaya)
Isi surat itu yang membuat hatiku semakin yakin untuk pergi dan menyusul kakakku. Umurku sudah cukup namun paman dan bibi petani tidak mengizinkanku untuk pergi jauh “kau ini perempuan, berbahaya untuk pergi jauh seorang diri.” tapi surat itu seolah memanggilku untuk pergi dan mencari kakakku, dengan berat hati akhirnya merekapun mengizinkanku. Dalam beberapa waktu lagi aku akan kembali bertemu dengan kakakku. Berbagi cerita, bermain dan bercanda seperti dulu.
Terlalu larut didalam kenangan-kenangan bersama kakakku dulu, sampai-sampai aku tak menyadari seorang wanita tua memanggilku.
“hey gadis… apa kau mendengarku” Kata si wanita tua itu.
“maaf nek, iya ada apa ya ?.”
“sepertinya kau sedang sibuk mengamati surat itu, apa kau tadi mendengar ceritaku ?”
Aku tak sadar bahwa ia dari tadi bersamaku duduk disini sambil bercerita kisah mudanya yang menjadi kembang desa, setidaknya aku tahu intinya. menikmati angin laut.
“aah i.. iya aku mendengarkannya kok nek, saat nenek bertemu dengan Jason si anak pemilik kebun semangka itu kan.”
“dia pemilik kebun melon, Reiner lah pewaris kebun semangka.”
“nah iya maksudku melon ya Jason si anak pemilik kebun melon hehe” Aku merasa bersalah, kalau tidak keberatan aku ingin ia mengulangi ceritanya lagi dan akan kudengarkan setiap detilnya.
“sudahlah nak, sebagai gantinya bisakah aku tahu kemana tujuan mu ?” nenek yang baik, itu bayaran yang murah untuk membayar kue mangkuk yang ia kasih siang tadi.
“Quatra, aku akan pergi menuju Quatra nek.”
Setelah mendengar jawabanku, raut wajahnya seketika berubah. Kini ia nampak seperti seorang bayi yang melihat sekumpulan badut sirkus.
“KAU TIDAK BOLEH KESANA!!!” Ia teriak.
Aku dan para penumpang yang sedang menghisap Zigarre (sejenis cerutu) terkejut saat ia berteriak, apa yang salah ?
“Quatra adalah Negara yang sangat berbahaya. Disana adalah negaranya para penjahat, pembunuh, pembantai, pencuri kau tahu itu. Kau akan mati seketika jika kau pergi kesana.” Lanjutnya.
Nampaknya nenek itu telah membuat topik yang membuat beberapa penghisap Zigarre masuk kedalam pembicaraan kami.
“Kau beruntung jika kau sampai disana dan kau mati seketika itu lebih baik daripada kau menjadi budak mereka. Kau akan disiksa terlebih dahulu dan kau tidak akan diizinkan untuk membunuh dirimu sendiri, Quatra adalah Negara terburuk. Percayalah ‘gadis’ kau benar-benar tidak harus datang kesana” Ucap si penghisap Zigarre.
Mendengar mereka mengatakan itu aku sudah tidak terkejut. Sebelumnya aku sudah sempat mencari informasi-informasi tentang Quatra di perpustakaan kota. Semua yang mereka katakan benar adanya, Quatra adalah salah satu negara paling berbahaya di dunia.
Saat ini yang aku pikirkan hanya mencari kakakku. Quatra adalah negara sudah pasti disana terdapat banyak orang dan diantara beribu-ribu orang disana aku yakin pasti masih ada orang yang baik yang akan membantu menemukan kakakku, ya aku yakin.
“30 menit sampai Pemberhentian berikutnya, Quatra!! Pemberhentian berikutnya, Quatra!! Quatraa..!!” Teriak speaker kapal di seluruh penjuru.
Komentar
Posting Komentar